Menurut Bahlil bisnis proyek CCS mempunyai prospek yang cukup cerah di masa mendatang. Pasalnya, era transisi energi membuat teknologi CCS semakin dibutuhkan secara global.
“Bapak presiden kami laporkan bahwa selain daripada lifting minyak kita dan gas kita itu mempunyai harta karun yang namanya namanya CCS,” kata Bahlil dalam acara Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2025, pada Rabu (21/5/2025).
Lebih lanjut, Bahlil menilai bahwa secara global industri yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil atau proses industri yang menghasilkan emisi karbon, sangat memerlukan teknologi CCS untuk mengurangi emisi.
“Dunia sekarang selalu berpikir sekarang tentang membangun industri hilirisasi dengan pendekatan green energy dan Green industry, salah satu diantara untuk mewujudkan Green energinya dan Green industrinya adalah bagaimana menangkap carbon capturenya seutuhnya,” katanya.
Hal ini tentunya menjadi peluang bagi Indonesia lantaran mempunyai potensi penyimpanan emisi karbon atau CO2 yang sangat besar. Bahkan menjadi yang terbesar di Asia Pasifik.
“Di dunia yang mempunyai cadangan storage carbon capture yang salah satu terbesar di dunia untuk di Asia Pasifik Pak kita paling terbesar. Nah ini sudah dimanfaatkan oleh BP sama Exxon aturannya sudah kita buat pp-nya sudah, permennya pun sudah Pak,” katanya.
Pertemuan ini dilakukan dalam rangka memperkuat hubungan Indonesia-Tiongkok, serta memperdalam kemitraan bilateral yang semakin penting di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam pertemuan ini, Luhut mengutip pepatah Tiongkok yang berbunyi, “Persahabatan antarnegara terletak pada persahabatan antar-rakyatnya, dan persahabatan antar-rakyat terletak pada saling pengertian di hati mereka,” yang mencerminkan prinsip “mutual trust” atau saling percaya, sebagai landasan utama dalam membangun kemitraan yang lebih kuat dan berkelanjutan antara kedua negara.
“Kepercayaan dan saling pengertian adalah pilar yang mendasari kemitraan kita. Dengan kerja sama yang erat dan berbasis pada mutual trust, kita akan mampu memperkokoh hubungan Indonesia dan Tiongkok, serta membuka lebih banyak peluang bagi kedua negara untuk berkembang bersama di masa depan,” ungkap Luhut dalam keterangan resmi, Selasa (20/5/2025).
Dalam kesempatan ini, Luhut juga menyampaikan salam dari Presiden Prabowo Subianto dan memperkenalkan delegasi Indonesia yang terdiri dari pejabat tinggi lintas kementerian dan sektor strategis.
Luhut yang didampingi oleh Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, serta Anggota DEN Haryanto Adikoesoemo, Heriyanto Irawan, Septian Hario Seto dan Firman Hidayat, juga mengungkapkan amanah barunya sebagai Ketua DEN dan Penasihat Khusus Presiden RI untuk Teknologi Pemerintahan dan Digitalisasi, yang bertujuan untuk memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi dan reformasi layanan publik guna mendukung kemajuan Indonesia.
Pertemuan ini menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk memperkuat “Comprehensive Strategic Partnership”, serta semangat “Community with a Shared Future”.
Sejumlah proyek strategis dibahas dalam pertemuan ini, termasuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Two Countries Twin Parks, Kawasan Industri Hijau Kaltara, dan Great Giant Sea Wall.
Kerja sama bilateral juga diperluas ke sektor-sektor penting lainnya, seperti pangan, kesehatan, bioteknologi, serta pendidikan dan riset. Berbagai inisiatif dalam bidang ini termasuk beasiswa, laboratorium bersama, dan pelatihan digitalisasi, yang diharapkan dapat memperdalam hubungan kedua negara dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menyongsong momentum 75 tahun hubungan diplomatik RI-Tiongkok dan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika, Luhut berharap bahwa fondasi saling percaya dan semangat persahabatan yang telah terbangun akan terus memperkuat kemitraan kedua negara.
“Kami tidak hanya membangun kemitraan strategis, tetapi juga menenun masa depan yang inklusif, adil, dan bermakna bagi komunitas global,” pungkas Luhut.
Sebagai informasi, hanya seri iPhone 15 Pro dan iPhone 16 yang mendukung fitur Apple Intelligence. Artinya, kemitraan Apple dan Alibaba spesifik untuk kedua generasi iPhone tersebut di China.
Namun, kemitraan tersebut membuat pemerintahan Donald Trump ketakutan. Gedung Putih dan pejabat kongres telah menyelidiki kemitraan antara dua raksasa teknologi tersebut.
Otoritas AS khawatir kesepakatan tersebut akan membantu Alibaba meningkatkan kemampuan AI-nya. Selain itu, hal ini juga dinilai bisa memperluas penggunaan chatbot China yang penuh penyensoran.
Tak kalah penting, pemerintah AS takut Apple akan lebih dalam terpapar dengan hukum yang berlaku di China terkait penyensoran dan pembagian data, menurut laporan The New York Times, berdasarkan 3 sumber yang mengetahui isu tersebut, dikutip dari Reuters, Senin (19/5/2025).
Apple dan Alibaba tidak segera merespons permintaan komentar dari Reuters.
Pada Februari lalu, Alibaba mengonfirmasi kemitraan dengan Apple untuk menyediakan layanan AI bagi iPhone yang beredar di pasar China.
Bagi Alibaba, kemitraan tersebut merupakan kemenangan besar di tengah kompetisi yang sengit di pasar AI China. Dalam beberapa bulan terakhir, perkembangan AI China berkembang pesat, terutama saat kemunculan DeepSeek yang mengguncang dunia dan membuat raksasa teknologi AS rontok berjamaah.
Indeks ini mengukur kemajuan dalam harapan hidup, pendidikan dan pendapatan. Setelah PDB, ini adalah salah satu indeks yang paling banyak digunakan.
Setelah mengalami penurunan dua tahun berturut-turut pada 2020 dan 2021 akibat pandemi, lalu mulai ada perbaikan yang sejak 2022.
Laporan tersebut mencatat bahwa pada 2023, dunia mengalami laju pertumbuhan kualitas hidup paling lambat sejak indeks ini pertama kali diperkenalkan pada 1990.
Dalam daftar terbaru terhadap 193 negara, Indonesia hanya mampu bertengger di posisi ke-113, dengan skor HDI 0,728. Rincian skor ini mencerminkan, angka harapan hidup warga RI mencapai 71,1 tahun, dan rata-rata lama sekolah 13,3 tahun
Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, posisi Indonesia jauh tertinggal. Malaysia berada jauh di atas, di peringkat 67 dengan skor 0,811. Semenatara Thailan dan Vietnam di peringkat 76 dan 93 dengan skor masing-masing 0.798 dan 0,766.
Dominasi Negara-Negara Nordik
Peringkat teratas HDI 2023 kembali didominasi negara-negara Nordik. Islandia berhasil merebut posisi pertama dengan skor 0,972. Bayi yang lahir di Islandia diperkirakan akan hidup lebih dari 82 tahun dan memperoleh pendidikan selama lebih dari 18 tahun. Pendapatan per kapita di sana mendekati US$ .
Berikut negara dengan harapan hidup tertinggi
Norwegia dan Swiss (skor sama: 0,970)
Denmark (0,962)
Jerman dan Swedia (0,959)
Australia (0,958)
Hong Kong dan Belanda (skor sama: 0,955)
Belgia (0,951)
Negara dengan Harapan Hidup Terburuk
Negara dengan skor HDI paling rendah didominasi oleh negara-negara di kawasan Afrika Sub-Sahara. South Sudan menempati posisi terbawah dengan harapan hidup kurang dari 58 tahun, rata-rata pendidikan hanya sekitar 6 tahun, dan pendapatan nasional bruto per kapita hanya sekitar $688.
Negara-negara lain dengan skor HDI rendah antara lain:
Di tengah serbuan buah tropis ke pasar ekspor, sirsak si buah asam manis yang juga dikenal sebagai graviola atau guanabana diam-diam mencatat jejak perdagangan yang menarik. Dikenal karena rasa asam-manisnya yang khas dan potensi kesehatannya yang luar biasa, buah ini semakin dilirik pasar global, terutama sebagai bahan baku jus, teh herbal, hingga suplemen antioksidan.
Namun sayangnya performa ekspor sirsak Indonesia dalam enam tahun terakhir menunjukkan pola yang naik-turun dan belum stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor sirsak RI pada tahun 2024 sebesar US$54.393 dengan volume pengiriman mencapai 72.145 kilogram. Angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang sempat mencapai hampir US$78.998.
Tapi ini bukan karena permintaan lesu, meski nilai ekspornya belum stabil, volume ekspor sirsak RI justru cenderung meningkat sejak 2020, menunjukkan bahwa permintaan pasar tetap ada, terutama untuk produk segar dan semi-olahan. Namun harga jual per kilogram sirsak di pasar ekspor menurun, yang mengindikasikan adanya tantangan di sisi nilai tambah dan kualitas pascapanen.
Tahun 2021 tercatat sebagai tahun tertinggi ekspor dalam enam tahun terakhir, dengan nilai mencapai US$97.515 dan volume pengiriman mencapai 133.417 kilogram. Namun angka ini kemudian anjlok drastis pada 2022, baik dari segi volume maupun nilai, sebelum kembali pulih sebagian pada 2023.
Dari sisi negara tujuan, Malaysia menjadi pembeli paling konsisten sepanjang 2019-2024. Pada tahun 2024, ekspor sirsak Indonesia ke Malaysia mencapai US$24.089, menjadikannya pasar terbesar untuk komoditas ini. Di negara jiran, sirsak tak hanya dikonsumsi sebagai buah segar, tapi juga sebagai bahan dasar minuman kesehatan dan obat tradisional.
Sementara itu, permintaan dari kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Kuwait justru merosot tajam. Arab Saudi yang sempat menyerap lebih dari US$13.000 pada 2019 dan menurun drastis pada 2024. Penurunan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh ketatnya regulasi impor produk hortikultura segar, serta meningkatnya persaingan dari negara pemasok lain seperti Thailand dan Mesir.
Salah satu alasan utama kenapa sirsak tetap diminati global adalah khasiat kesehatan yang dikaitkan dengannya. Buah ini dikenal mengandung acetogenin, senyawa bioaktif yang disebut-sebut memiliki potensi sebagai anti-kanker, antiradang, dan anti-parasit. Dalam banyak budaya, daun dan buah sirsak dijadikan bahan infus herbal, suplemen detoks, hingga campuran teh kesehatan.
Negara seperti Malaysia dan Singapura, yang memiliki pasar konsumen dengan kesadaran kesehatan tinggi, dan lokasi yang lebih strategis menjadi target ideal untuk komoditas ini.
Sayangnya, masih banyak pengiriman yang bersifat produk mentah tanpa nilai tambah, dan kurangnya integrasi antara petani, pelaku UMKM, dan eksportir membuat rantai pasok cenderung rapuh. Di sisi lain, negara-negara kompetitor sudah mulai mengekspor dalam bentuk puree, teh celup, hingga kapsul herbal.
“Peresmian dua proyek ini merupakan peresmian pertama di bidang lifting migas pada masa pemerintahan baru yang saya pimpin,” kata Prabowo.
“Kedua, proyek ini menjadi tonggak penting bersejarah dan upaya kita bersama dalam mencapai swasembada energi nasional,” sambungnya.
Menurutnya swasembada energi sangat penting dicapai bagi bagi kemerdekaan bangsa. Jika mampu mandiri dalam energi menurut Prabowo, negara mampu menghemat puluhan miliar hingga ratusan triliun.
“Kita akan menghemat puluhan miliar US$, ratusan triliun kita tidak perlu mengalir ke luar bangsa Indonesia,” kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan total investasi proyek ini mencapai US$ 600 juta atau sekitar Rp 9,8 triliun (Rp 16.437/US$), dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 2.300 orang pada masa konstruksi.
“Kami juga melaporkan bapak presiden proyek ini mempunyai nilai strategis karena yang punya adalah anak kandung dari republik Indonesia, pekerjanua juga semua anak bangsa. Termasuk kapal FPSO-nya pertama juga adalah buatan 100% TKDN Indonesia,” katanya.
Bahlil melaporkan bahwa proyek Forel dan Terumbuk ini merupakan dari bagian pengembangan potensi minyak dan gas bumi wilayah kerja South Natuna, blok B, Laut Natuna Provinsi Kepulauan Riau. Menurut Bahlil dari dua proyek ini akan menambah lifting migas sebanyak 20.000 barrel per hari, juga produksi gas sebesar 60 juta meter kubik per hari.
“Makanya 2026, 2027, 2028 gas kita akan sudah bisa Insya Allah surplus tinggal kita fokus di minyak termasuk bensin dan solar,” kata Bahlil.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan hal itu tidak berpengaruh signifikan terhadap Indonesia. Sebagai negara yang kini tidak lagi mengandalkan impor, Indonesia justru disebut sebagai salah satu penyebab turunnya harga beras global.
“Kalau tren beras dunia menurun, karena pelanggan utama dan yang paling banyak membelinya, nggak impor lagi, yaitu Indonesia,” kata Sudaryono dalam kunjungannya ke Rice Mill Unit (RMU) Bulog di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/5/2025).
“Begitu Indonesia nggak impor, mereka jadi oversupply, begitu oversupply maka harga jadi turun,” sambungnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa posisi Indonesia kini makin kuat sebagai negara produsen, bukan pembeli. Kebijakan penghentian impor menurut Sudaryono, telah mengubah peta pasokan global dan menyebabkan harga di pasar internasional ikut tertekan.
Ia pun menegaskan, turunnya harga beras dunia tidak akan berdampak pada harga domestik. Alasannya sederhana, karena sebagian besar beras yang beredar di Indonesia merupakan hasil produksi petani dalam negeri.
“Kita itu kan tidak terpengaruh, harga beras kita dengan beras dunia, karena kan kita produksi semua dalam negeri, sehingga nggak ada masalah,” sebut dia.
Justru saat ini tantangan utama pemerintah adalah mengelola panen yang melimpah. Ia menyebut situasi ini sebagai “good problem (masalah yang baik)”. Menurutnya, lebih baik kebanjiran hasil panen ketimbang kekurangan pasokan.
“Ini kan namanya good problem, lebih baik panen melimpah kita bingung cari solusi, daripada kita panennya nggak ada barangnya,” tuturnya.
Sudaryono juga membeberkan kondisi gudang Bulog yang sudah penuh akibat tingginya volume penyerapan beras dari petani. “Ini menjadi catatan, sekali lagi, Bulog ini sudah luar biasa, ternyata panennya jauh lebih banyak daripada yang kita perkirakan. Sehingga kita berharap, ini gudangnya sudah penuh semua,” katanya.
Bahkan, demi menampung surplus beras, Bulog disebut telah menyewa dan meminjam gudang dari berbagai pihak, termasuk aparat dan desa. “Udah nyewa gudang, udah pinjam gudang, udah gudangnya polisi, gudangnya tentara yang nggak terpakai, bahkan gudangnya kepala desa, kalau di desa itu ada gudang, kita udah sisir semua gudang supaya bisa menyerap lebih banyak,” lanjut Sudaryono.
Terkait kemungkinan ekspor di tengah turunnya harga global, Sudaryono tetap menjawab santai. Ia memastikan ekspor tetap bisa dilakukan dengan harga yang sesuai pasar. “Saya kira kita nggak ada (masalah), kita mau ekspor kan kita tawarkan harganya segini,” ujarnya singkat.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyebut keputusan pemerintah untuk menghentikan impor beras telah berkontribusi menurunkan harga beras dunia dari US$460 per ton menjadi US$390 per ton.
“Terendah terjadi saat ini, karena kita tidak mengimpor,” ujar Amran kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Termasuk dalam hal ini adalah impor mobil. Saat ini, baik mobil listrik maupun mobil bensin yang beredar-dijual di Indonesia ada yang masih diimpor sepenuhnya dan utuh alias completely built up (CBU). Jika dibiarkan terus, akan semakin menekan industri terkait yang ada di dalam negeri.
Sementara itu, penjualan mobil nasional seperti tak mampu mempertahankan capaian positif di bulan April 2025.
Setelah sempat naik di bulan Februari 2025, penjualan mobil berbalik turun hampir 2% atau 1.444 unit jadi 70.892 unit di bulan Maret 2025. Lalu, penjualan kembali anjlok, kali ini sampai 27,8% jadi hanya 51.205 unit di bulan April 2025.
Penjualan di bulan April 2025 ini adalah yang terburuk dalam 12 bulan terakhir.
Kondisi ini pun memicu kekhawatiran. Sebab, efek dominonya akan menimpa industri lain, salah satunya industri plastik dan petrokimia di Tanah Air.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, industri otomotif berkontribusi 15% terhadap pasar industri plastik dari hulu ke hilir. Karena itu, kata dia, penjualan mobil yang anjlok akan berdampak bagi industri plastik nasional, dari hulu (petrokimia) hingga ke hilir.
“Di mobil itu, konsumsi plastiknya 50-100 kg per unit. Kalau penjualan motor kan memang sudah pasti tak sampai 8 juta unit. Mobil kita harapkan 800.000-an unit tahun ini. Tapi kalau sebulan kemarin pun hanya 50.000-an unit, bisa jadi 750.000 unit pun bakal susah tahun ini. Nah ini dampaknya nanti ke industri komponen,” katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/5/2025).
“Kemungkinan kondisi di tahun 2026 juga akan susah. Kalau misal sama dengan tahun 2025, masih oke. Tapi bisa lebih buruk. Industri auto parts (komponen otomotif) kemarin masih terbantu penjualan mobil, tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucapnya.
Industri otomotif, kata dia, membutuhkan sekitar 250.000 ton PP Block Copo. Yaitu, polypropylene (PP) yang digunakan industri otomotif, termasuk untuk memproduksi komponen yang membutuhkan kekuatan dan fleksibilitas.
“Dengan kondisi seperti ini, rasanya 200.000 ton juga bakal susah sekali. Apalagi, kita banyak sekali impor auto parts dari China dan Thailand. Akibatnya, utilisasi industri hilir akan turun ke bawah 60%. Ini sinyal bahaya. Kalau yang lebih hulunya jangan sampai turun ke 70%, sementara yang ke hulu lagi harus 100% utilisasinya,” ucapnya.
Apalagi, imbuh dia, raksasa elektronik asal Jepang, Panasonic, pada pekan lalu mengumumkan rencana PHK global. Mudah-mudahan Indonesia nggak kena.
Meski begitu, sebutnya, industri plastik di dalam negeri tetap harus mencari “bantalan” agar kapasitas tidak anjlok dalam. Sebab, sambungnya, industri plastik hilir segmen pasar menengah ke bawah kini sudah banyak yang diisi barang impor, terutama dari China.
Karena itu, lanjut Fajar, selain menaikkan daya beli, pemerintah diminta mengevaluasi kinerja dan kebutuhan industri manufaktur di dalam negeri secara total. Dengan begitu, ujarnya, diperoleh hasil analisis atau diagnosis yang menyeluruh, untuk mengetahui permasalahan dan solusi yang dibutuhkan masing-masing industri, di masing-masing lokasinya.
“Kompetisi mobil listrik dan mobil bensin ini masih ketat. Sementara kita lihat penjualan motor listrik lagi anjlok. Produksi dan marketnya belum sejalan. Kita harap daya beli akan semakin baik,” ucapnya.
“Batasi impor, efisiensi anggaran silahkan diteruskan tapi dengan selektif. TKDN kalau memang sudah bagus jangan diperlonggar,” tambah Fajar.
Dia mengatakan, pelonggaran impor seharusnya hanya untuk bahan baku dan barang yang memang belum bisa dibuat di dalam negeri. Pemerintah, ujarnya, harus mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang diterbitkan agar update dengan kondisi dialami industri.
“Kalau memang sudah bisa dibuat di sini, seperti tekstil, perlindungannya harus ketat. Kalau kemarin semangatnya adalah memperlancar arus barang, sekarang, pada semester 2 nanti harusnya fokus bagaimana mempertahankan likuiditas industri d dalam negeri,” katanya.
“Jangan sampai impor barang jadi mengganggu pasar dalam negeri. Karena kita tidak mungkin melawan impor dari China, sudah terlalu murah harganya. Jadi, fokus pemerintah pada semester kedua nanti adalah mengevaluasi secara keseluruhan. Kalau tadinya dokter umum, sekarang harus dengan diagnosis dari dokter spesialis dan sub-spesialis lagi. Jadi bisa tahu akar masalahnya. Artinya harus memahami betul karakter kebutuhan dan masalah industri itu sendiri,” tukasnya.
Shinta menganggap, kasus itu perlu ada investigasi secara khusus di internal organisasi pengusaha yang diduga terlibat dalam pemerasan terhadap investasi proyek pabrik kimia chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.
“Mengenai kasus di Cilegon saya cuma mengatakan bahwa saya rasa kita perlu tahu duduk persoalannya, saya rasa mereka akan investigasi lebih lanjut apakah ini memang mengatasnamakan organisasi atau individu atau seperti apa,” kata Shinta saat Media Briefing Apindo di Jakarta, Selasa (13/5/2025).
Shinta menekankan, pihaknya tidak mau terlibat lebih jauh menanggapi kasus itu. Namun, ia menekankan, yang perlu menjadi perhatian saat ini ialah pemerintah dan seluruh aparat keamanan harus bisa memastikan keamanan investor untuk membuka pabriknya di Indonesia, karena Indonesia tengah diterjang masalah PHK.
“Jadi kami nggak mau terlalu lihat di sisi itu yang kami mau garisbawahi lebih dari aspek keamanan dan ormas. Itu yang menjadi satu perhatian sangat penting karena ini juga mengganggu daripada iklim usaha yang baik,” ucapnya.
“Jadi ini yang mungkin menjadi perhatian kami tapi peristiwa Cilegon saya rasa perlu diinvestigasi lebih lanjut untuk mengetahui duduk persoalannya seperti apa,” tegas Shinta.
Meskipun tidak dibatasi atau bahkan dilarang selayaknya negara muslim lainnya, tetapi produksi daging babi mengalami penurunan. Sejak 2020, grafiknya tak lagi menanjak. Sebaliknya, angka produksi terjun bertahap hingga titik terendah dalam lima tahun terakhir. Dari 280.937 ton pada 2020, kini hanya tersisa 130.871 ton di 2024 nyaris separuhnya hilang tanpa gema yang ramai.
Penurunan ini bukan kebetulan. Pada 2020, wabah African Swine Fever (ASF) merebak di sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, menghantam peternakan babi di Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur.
Penyakit yang mematikan bagi babi namun tidak menular ke manusia ini membuat ribuan ternak dipotong paksa. Pulih dari ASF bukan hal mudah, apalagi jika infrastruktur veteriner dan kontrol biosekuriti masih tertatih.
Dari segi angka, 2021 mencatat penurunan 7% dari tahun sebelumnya, diikuti oleh penurunan drastis hingga 42% pada 2022. Meski sempat naik sedikit pada 2023, produksi kembali menyusut 15% pada 2024.
Tren ini menandakan bahwa pemulihan bukan sekadar soal waktu, tapi soal prioritas dan kapasitas, dua hal yang belum tentu tersedia untuk subsektor peternakan babi di negeri ini.
Permintaan di Kota Besar Naik
Namun di tengah suramnya angka nasional, ada satu provinsi yang masih bersinar terang, Bali. Pulau Dewata menyumbang lebih dari setengah total produksi nasional dengan volume mencapai 66.231 ton pada 2024. Budaya dan konsumsi lokal menjadikan daging babi sebagai bagian integral dalam kehidupan masyarakat Bali. Di belakang Bali, posisi kedua ditempati oleh Nusa Tenggara Timur (13.394 ton) dan Sumatera Utara (11.340 ton).
Yang menarik, DKI Jakarta pun mencatat produksi daging babi sebesar 5.536 ton, angka yang cukup besar untuk wilayah non-agro. Fenomena ini menunjukkan adanya permintaan pasar yang tetap tinggi di perkotaan, termasuk untuk kebutuhan industri makanan. Provinsi seperti Sulawesi Selatan (4.217 ton) dan Jawa Timur (4.049 ton) turut berkontribusi signifikan, mencerminkan keberagaman basis konsumen daging babi di luar Bali.
Apakah daging babi masih masuk radar strategi ketahanan pangan nasional? Apakah ada ruang untuk insentif pemulihan peternakan pasca ASF? Dan bagaimana memastikan petani kecil tak terus kehilangan pasar mereka karena stigma dan minimnya dukungan teknis?